Spiga

Artikel Luar: Cari Kerja di Jepang

Cari kerja di Jepang - memangnya gampang ??

Halo semua... apa kabar ?

Kabar saya sendiri baik-baik saja. Sedikit sibuk belakangan ini, sampai nggak sempat mengupdate daunsingkong ini.

Sibuk apa sih ? Pulang ke Indonesia bukannya mau santai-santai dulu ?

Tadinya sih maunya gitu... apa daya, ternyata saya malah dapat rejeki banyak kerjaan nih... Iya... tadinya mau santai dulu, menikmati jadi ibu RT gitu... Memang saya nggak rencana cari kerja jadi pegawai kantoran. Maunya kalo kerja ya yang nggak usah berat-berat aja (tapi pemasukannya banyak ! ha ha ha...) Kalau bisa nggak usah tiap hari pulang balik ngelewatin macetnya Jakarta... dan kalau bisa saya nggak usah bangun pagi-pagi... duh maunya deh...

Trus, jadilah saya mengaktifkan kemampuan bahasa Jepang saya : jadi guru bahasa Jepang privat dan jadi interpreter.

Nah, soal kerjaan interpreter, waktu acara Indonesian Motor Show kemarin, saya kerja jadi interpreter untuk teknisinya I-Unit yang didatangkan Toyota dari Jepang sana. Sebenarnya saya mau cerita-cerita soal ini, tapi belakangan ada hal yang 'menggundeli' pikiran saya, dan nggak tahan mau saya tulis di blog ini. Jadi cerita I-Unit nya menyusul ya !

Gini nih, baru-baru ini kan PM Jepang Abe datang ke Indonesia, dan ceritanya Indonesia tuh ingin agar kerja sama Jepang-Indonesia lebih intensif ditingkatkan melalui perjanjian EPA. Kalau selama ini kerja samanya terbatas hanya penanaman modal Jepang ke Indonesia, Pak Jusuf Kalla maunya lebih banyak lagi orang Indonesia yang dikirim ke Jepang sebagai tenaga kerja. Kalau nggak salah, dari sekitar 20 ribu pekerja Indonesia yang ada di Jepang saat ini, ingin lebih ditingkatkan jadi sekitar 80 ribu-an gitu.

Nah, saya pribadi sejak punya blog ini (dan bilang-bilang kalo pernah kerja di Tokyo), banyak dapat pertanyaan, gimana sih caranya dapat kerjaan di Jepang. Dan belakangan, saya sering dapat pertanyaan, apakah angka 80 ribu pekerja Indonesia itu realistis ?

Honestly, secara spontan saya akan bilang, jauuuhhh dehhh...!

Tapi ini pendapat saya yang bukan pengamat loh. Jangan terlalu dipercaya, apalagi dijadikan referensi. Saya hanya berpendapat sebagai seorang yang pernah merasakan kerasnya kerja di negeri Sakura itu.

Waktu saya di Jepang, sebagai orang Indonesia, saya sering kumpul-kumpul dengan orang Indonesia. Nah, kalau boleh saya kelompokkan orang Indonesia yang bekerja di Jepang itu ada beberapa kategori. Ini selain mereka yang datang nebeng keluarga (misal istri / anak ngikut suami, atau ngikut saudara), dan mereka yang pelajar.
1. Mereka yang dikirim perusahaan untuk ditempatkan di Jepang.
2. Mereka yang bekerja di Jepang setelah menempuh pendidikan di Jepang. Entah lulus universitas, sekolah kejuruan, atau sekolah bahasa Jepang.
3. Mereka yang bekerja dengan status training. Artinya, mereka ini dikirim dari perusahaan Jepang yang ada di Indonesia, atau institusi di Indonesia, termasuk dari departemen tenaga kerja.
4. Mereka yang bekerja secara ilegal.

Dari keempat kelompok di atas, yang jumlahnya paling sedikit tentu saja yang nomor 1. Saya sendiri pernah menjadi bagian dari kelompok kedua, kelompok yang menurut saya jumlahnya juga sangat sedikit dibanding yang nomor 3 dan 4. Saya nggak tahu nomor 3 dan 4 mana yang jumlahnya lebih banyak, yang jelas banyak deh.

OK, di sini saya coba bahas satu per satu yah.

Kelompok pertama saya bilang sebagai kelompok orang-orang yang beruntung. Iya dong, wong banyak banget orang yang pingin ditempatin di Jepang. Kalau perusahaan nyuruh orang itu ke Jepang, ya beruntung banget dong...

Sedangkan kelompok yang kedua itu adalah mereka-mereka yang lulus sekolah di Jepang, dan terus cari kerja di Jepang juga. Menurut saya pribadi, ini jalur paling wajar untuk dapat kerja di Jepang, meskipun lika-liku untuk mendapatkan pekerjaan bukan sesuatu yang gampang karena kita harus bersaing dengan beribu-ribu orang Jepang. Yang jelas, saya lihat orang-orang dari kelompok ini biasanya punya kemampuan bahasa Jepang lebih baik dari kelompok lainnya. Silahkan liat tulisan saya disini untuk cara-cara mencari kerja untuk lulusan Jepang.

Trus kelompok yang ketiga. Meskipun mereka punya visa dengan status training, pekerjaan mereka sebenarnya banyak yang tidak berbeda dengan pekerja biasa. Kalau masa trainingnya kurang dari satu tahun, memang mereka benar-benar mendapat pendidikan training. Tetapi jika lebih dari setahun, ada kemungkinan mereka diperkerjakan sebagai tenaga kasar di pabrik, sama seperti orang Jepang. Lalu kenapa dengan visa training ? Karena dengan status training, perusahaan bisa membayar upah yang jauh lebih murah. Apalagi, untuk mendapatkan visa kerja di Jepang, orang asing harus mempunyai keahlian, dan gaji yang akan diterima orang asing itu tidak boleh lebih rendah dari gaji yang akan diterima orang Jepang. Tapi kenyataannya, tidak sedikit perusahaan di Jepang yang memperkerjakan orang dengan status traing, dan memberi upah lebih rendah daripada orang Jepang sendiri. Meskipun begitu, karena kalau dikurs ke Rupiah jumlah gaji yang diterima per bulan bisa sama dengan gaji manajer perusahaan elit di Jakarta, tentu saja tidak ada "trainee" yang mengeluh. Lah, di Indonesia aja cari kerja susah gitu loh...

Nah, mereka yang masa trainingnya sudah habis, banyak yang menyeberang ke kelompok nomor 4. Maksudnya, meskipun visanya sudah tidak berlaku lagi, mereka tetap tinggal di Jepang dan meneruskan pekerjaannya seperti biasa.

Tidak cuma mereka yang awalnya punya visa training. Ada juga mereka yang datang dengan visa turis, lalu "overstay" dan cari kerja blue collar di Jepang.

Pertanyaannya, apa ada perusahaan yang mau memperkerjakan mereka yang bermasalah secara hukum ini ?
Jawabannya : banyak. Karena dengan memperkerjakan seseorang tanpa visa kerja, perusahaan bebas dari kewajiban membayar uang lebih untuk dana pensiun dan asuransi. Selain itu, dibayar murah pun jarang ada pekerja yang unjuk rasa. Kan sudah saya bilang, perbedaan kurs Yen Jepang dengan Rupiah Indonesia masih membuat mereka bisa menghidupi keluarga mereka dengan sangat layak meskipun resikonya, mereka tidak bisa pulang ke tanah air dan bertemu keluarga selama bertahun-tahun.
Yang mengejutkan, ternyata tidak semua orang dari kelompok 4 ini punya pendidikan rendah. Bahkan beberapa orang dari kelompok ini yang saya kenal adalah lulusan universitas top di Jakarta. Dan kalau anda berpikir bahwa hanya orang dari suku / etnis tertentu saja yang mau melakukan kerja seperti ini, anda salah besar. Kelompok ini anggotanya bhinneka tunggal ika lah.

OK, itu tentang pengelompokkan pekerja yang saya buat secara asal. Sebenarnya sih ada satu lagi, pekerja Indonesia yang kerja di Jepang karena beruntung dapat lowongan kerja dari Indonesia, dan mereka bisa ke Jepang meskipun tidak begitu bisa berbahasa Jepang, tetapi punya skill yang cukup tinggi. Nah, berhubung saya hanya tahu 2 orang dari sekian banyak orang Indonesia di Jepang yang saya tahu, saya nggak memasukkan orang-orang ini ke dalam suatu kelompok. Padahal inilah yang diincar banyak banyak orang, dan mungkin yang dijadikan sasaran oleh Pak Kalla.

Persoalannya sangat mendasar: perusahaan Jepang tidak mau repot-repot mengundang orang asing dari negara lain untuk masuk ke negaranya. Mereka akan sangat mengutamakan (dan mempercayai) orang Jepang ketimbang orang asing. Apalagi dari negara yang standar pelayanannya amat sangat rendah seperti negara anda tercinta ini.

Seingat saya, akhir tahun lalu pernah ada gosip bahwa pemerintah Filipina berminat mengirimkan ratusan rakyatnya sebagai tenaga kerja di panti jompo. Tahu kan, grafik kependudukan Jepang sudah berbentuk segitiga kerucut, yang berarti, jumlah penduduk usia lanjutnya sangat melebihi penduduk usia produktif. Nah, kaum muda Jepang sendiri banyak yang sudah tidak mau lagi bekerja mengurus-urus orang jompo yang pastinya membutuhkan kesabaran.

Filipina menganggap ini sebagai peluang, dan sudah memberikan pelatihan termasuk bahasa Jepang, kepada mereka yang akan dikirim ke Jepang. Tapi masalahnya, banyak protes muncul dari orang2 Jepang, kekhawatiran khas Jepang yang terlalu mendetil, tapi menjadi penentu karena hampir semua orang Jepang berpikiran sama : mereka belum percaya pada kualitas pelayanan orang asing. Apalagi yang akan dilayani adalah orang-orang jompo. Bagaimana kalau sang pembantu nggak ngerti si mbah ngomong apa ? Bagaimana kalau si mbah kepleset di kamar mandi, apakah si pembantu akan cepat tanggap menolong dan memberikan pertolongan pertama seperti yang layaknya dilakukan orang Jepang ?

Nah, kekhawatiran akan standar pelayanan inilah yang juga menjadi dasar ketidakpercayaan orang Jepang terhadap tenaga kerja asing. Saya pun tidak satu dua kali merasakan kemampuan saya disangsikan oleh klien orang Jepang, hanya karena saya punya paspor garuda...

Tapi kalau kita melihat kembali ke kondisi kerja di Indonesia, memang lubuk hati saya
mengakui bahwa standar kita masih amat sangat jauh dari standar yang dituntut oleh masyarakat Jepang. Orang Indonesia masih sangat gampang memaafkan kesalahan orang, sedangkan orang Jepang tidak. Lihat saja kolom surat pembaca di surat kabar kita. Bukan satu dua kali sebuah perusahaan besar yang keliatannya bonafid, tetapi mendapat klaim lewat surat pembaca. Herannya, klaim yang sama bisa terjadi berkali-kali, seolah-olah hal yang sudah berlalu dibiarkan berlalu. Di Jepang, jika suatu perusahaan keren ketahuan mendapat klaim dari konsumen, kepercayaan terhadap perusahaan itu pasti akan jatuh.

Ambil contoh kasus pesawat China Airlines yang terbakar di bandara Naha, Okinawa baru-baru ini. Meskipun tidak ada korban jiwa, direktur perusahaan penerbangannya langsung mengadakan konferensi pers meminta maaf atas kecemasan masyarakat Jepang. Dan pemerintah Jepang pun memerintahkan seluruh perusahaan penerbangan untuk melakukan inspeksi ulang terhadap pesawat jenis yang sama. Sedangkan di Indonesia, dari berbagai kecelakaan pesawat yang terjadi, berapa perusahaankah yang meminta maaf secara resmi kepada masyarakat ? Dan apa yang pemerintah Indonesia sudah lakukan untuk menenangkan rakyatnya ? Pesawat hilang saja dibiarkan hilang tanpa ada penjelasan lebih lanjut...

Sebelum saya kembali ke Indonesia, ada sebuah perusahaan kue dan cake terkenal di Jepang, Fujiya. Cabangnya ada ratusan di Jepang, dan mereka juga memasok kue-kue ke supermarket. Saya juga suka belanja di toko ini karena enak dan murah. Suatu hari, ketahuan bahwa perusahaan ini ternyata menggunakan susu dan telur yang sudah kadaluarsa untuk menekan biaya produksi. Langsunglah pemerintah Jepang menyuruh pabrik perusahaan ini diperiksa. Dan ketahuanlah, bahwa ternyata di pabriknya banyak kecoa... Perusahaan ini langsung menutup seluruh cabangnya, menarik semua produknya dari supermarket, dan tentu saja, membuat konferensi pers dan meminta maaf secara resmi kepada masyarakat. Setelah melalui pemeriksaan ketat, akhirnya memang beberapa cabang dibuka kembali dan beberapa produk kembali dijual. Tetapi perusahaan ini harus membangun ulang kepercayaan masyarakat Jepang yang sudah runtuh.

Bagaimana di Indonesia ? Apakah kita peduli kalau susu dan telur yang digunakan suatu produsen makanan ternyata sudah basi ? Kalau kita menemukan bahwa ternyata roti yang kita beli agak berbau aneh, paling-paling kita hanya ngomel-ngomel kepada penjualnya. Pernah menemukan rambut di makanan bermerek sekalipun ? Paling-paling kita cuma membuang rambut itu sambil menggerutu. Tidak lebih. Kita seharusnya bisa menuntut lebih dari hanya sekedar mengomel.

Anyway, sekarang kalau memang anda kebelet banget pingin kerja di Jepang, apa yang bisa anda lakukan ?

Saran saya nomor satu : belajarlah bahasa Jepang. Orang Jepang itu banyak yang nggak mau ngomong bahasa Inggris, mas! mbak ! Apalagi menerima pekerja yang hanya bisa bahasa Inggris. Anda pernah dipuji seorang Jepang hanya karena anda menyapanya dengan "konnichiwa !"? Itu basa-basi. Kalau anda ingin dapat kerja di Jepang, lebih seriuslah belajar bahasa Jepang.

Kalau sudah, ambillah sertifikat. Setiap tahun, The Japan Foundation menyelenggarakan Japanese Language Proficiency Test. Yang paling rendah level 4, yang paling sulit level 1. Level satu is the best, tapi kalau susah, ya level 2 nggak apa-apa lah. Asal tahu saja, orang-orang Cina dan Korea yang kerja di Jepang punya standar level 1.

Lalu, jangan cuma bisa ngomong doang. Maksud saya, punyalah keahlian khusus lain selain bahasa Jepang. Kalau hanya kemampuan bahasa, apa yang memberikan anda nilai lebih dibanding orang Jepang ? Harus ada sesuatu yang membuat perusahaan Jepang tertarik untuk merekrut anda dong. Dan harus dibuktikan. Dengan sertifikat misalnya.

Satu lagi, bangun mental anda sesuai standar Jepang. Jam masuk kantor jam sembilan, tapi anda baru datang jam sembilan lewat lima ? Belum lagi masih ngecek email-email nggak perlu dan chatting selama jam kantor ? Sempat ngeblog lagi ? Kalo gitu, tunda dulu deh kerja di Jepangnya. Daripada anda memalukan nama bangsa...

Ok, kalau sudah, carilah lowongan kerja di Jepang untuk orang asing. Bisa dicari lewat
internet. Situsnya, tanya paman google yah. Tapi memang kadang perlu modal dulu lah. Untuk wawancara harus ke Jepang dulu misalnya. Syukur-syukur ada perusahaan yang mau wawancara lewat telepon. Bisa juga coba daftar ke agen tenaga kerja Jepang yang ada di Indonesia seperti JAC, Selna Jaya, atau Fuji Staff. Jarang sih ada kerjaan yang nawarin orang Indonesia ke Jepang. Tapi nggak ada salahnya kan dicoba, sekaligus konsultasi, siapa tahu mereka bisa bantu.

Dan jangan lupa berdoa. Gambatte !

Kalau anda ingin masuk ke kelompok yang saya buat di atas...
Kalau mau masuk ke kelompok no 1, tanya perusahaan anda lah... atau carilah perusahaan yang mau mengirim anda ke Jepang. Nanti kalau sudah ketemu kasih tahu saya yah.
Kalau mau masuk ke kelompok no 2, cari info di internet. Blognya pelajar Indonesia di Jepang banyak banget. Blog yang kasih info soal beasiswa juga banyak. Jangan malas nyari.
Nah, kelompok 3 saya nggak tahu. Mungkin tanya ke departemen tenaga kerja kali yah...
Apalagi kelompok 4. Mboten ngertos kulo mas !