Spiga

Kirim Dulu 1000 TKI ke Jepang (dari Milis Tetangga)

by: Richard Susilo

Kementerian tenaga kerja Jepang mulai melangkah lebih aktif lagi kini
mengantisipasi kedatangan tenaga kerja Indonesia (TKI) khususnya
tenaga perawat dan pekerja penopang lansia (lanjut usia) karena sejak
11 Desember lalu parlemen Jepang telah mensahkan masuknya TKI tersebut.

Dimulai dengan 200 perawat dan 300 PPL (Pekerja Penopang Lansia) yang
biasa disebut Care Workers diterima dengan hangat di Jepang mulai
tahun depan dan tahun 2009. Apabila program ini berhasil maka ditambah
lagi terus-menerus sehingga total 1000 TKI bekerja di Jepang.

Lalu apa ketentuan paling penting supaya bisa ke Jepang? Bagi perawat
tentu harus memiliki Sertifikat Perawat misalnya lulus dari Akademi
Perawat dan memiliki pengalaman sebagai perawat di rumah sakit atau
klinik di Indonesia.

Hal serupa berlaku bagi PPL, harus memiliki Sertifikat Kelulusan
sebagai PPL. Misalnya lulus Sekolah Kejuruan yang khusus menangani
perawatan bagi kalangan usia lanjut usia, serta pengalaman membantu
kalangan lanjut usia seperti pengalaman kerja di Rumah Jompo di Indonesia.

Dengan sertifikat dan pengalaman tersebut, masih belum menjamin
sepenuhnya pekerjaan di Jepang. Penguasaan bahasa harus dilakukan
sejak dini. Sebuah lembaga bahasa Jepang khusus bisnis - bagi yang mau
bekerja di Jepang atau di Perusahaan Jepang - Pandan College
(www.sekolah. biz), mengajarkan bahasa Jepang untuk bisnis.

Tiga hal inilah kunci utama kita dapat ke Jepang untuk bekerja dengan
baik. Di lain pihak pemerintah Indonesia melalui Departemen Tenaga
Kerja diperkirakan juga akan menyeleksi ketat calon TKI, misalnya dari
segi fisik. Hal ini karena Jepang memiliki empat musim. Terutama musim
dingin merupakan musim yang mematikan, sangat dingin sehingga banyak
yang sakit atau bahkan meninggal di saat musim dingin di Jepang.

Jepang sendiri akan mengalami kekurangan 40.000 tenaga perawat saat
ini. Jumlah kekurangan itu pun akan terus bertambah menjadi sekitar
450.000-550. 000 pada tahun 2014 mendatang.

Kesulitan perawat di Jepang itulah akan diisi oleh TKI dari Indonesia
khususnya tenaga perawat Indonesia. Sementara orang Indonesia sendiri
yang dapat berbahasa Jepang saat ini hanya sekitar 90.000 orang atau
sekitar 0,036% dari populasi Indonesia. Terlalu sedikit.

Saat ini jumlah pekerja di Jepang sudah 67 juta jiwa dan akan terus
menurun menjadi hanya 10 juta jiwa pada tahun 2030. Hal ini karena
keluarga muda Jepang jarang yang memiliki keinginan untuk punya anak.
Keberadaan anak masih dianggap beban di Jepang karena biaya hidup yang
tinggi. Jangan heran untuk merangsang semakin banyak anak di beberapa
propinsi di Jepang, mislanya di Oita menghadiahkan emas murni langsung
kepada keluarga yang memiliki anak lebih dari dua orang.

Perhatian Khusus TKI

Perhatian khusus Jepang kepada TKI karena citra manusia Indonesia yang
relatif lebih baik ketimbang manusia negara lain, khususnya yang
sama-sama dari Asia. Citra TKI adalah pekerja yang baik, rajin dan
tidak menuntut macam-macam kecuali kerja dengan rajin dan memperoleh
upah sesuai yang dikerjakannya. Lain dengan pekerja negara lain yang
seringkali meminta uang dulu barulah mau bekerja.

Dalam hal keagamaan, pemerintah Jepang kini mulai memperhatikan soal
Islam karena masyarakat Indonesia mayoritas Islam.

Olehkarena itu dalam kunjungan TKI ke Jepang, khususnya ke rumah sakit
atau panti jompo di Jepang, tempat penerima TKI tersebut diharuskan
Depnaker Jepang nantinya agar menyediakan ruangan khusus bagi TKI yang
mau bersholat (sembahyang) .

Demikian pula soal makanan akan menjauhkan atau memberikan perhatian
utama kepada hal-hal yang tidak halal seperti babi. Penerima TKI akan
selalu diingatkan terlebih dulu akan hal tersebut sehingga komunikasi
dan hubungan manusia yang lebih baik diharapkan dapat terjalin dengan
baik.

Memang Jepang penuh dengan perencanaan matang serta jangka panjang.
Apa pun yang akan terjadi di masa datang telah dipikirkan sejak dini
sehingga diharaplan tidak akan terjadi perselisihan atau ketegangan
apa pun di masa datang. Hal inilah seringkali kurang dipikirkan negara
non-Jepang sehingga muncul banyak dampak tidak baik pada akhirnya.
Misalnya banyak kita dengar adanya pemerkosaan TKI di Arab Saudi dan
sebagainya. Hal seperti inilah mungkin tidak akan terjadi di Jepang
karena semua sudah dipersiapkan matang dengan berbagai pemisahan
lelaki dan wanita nantinya di tempat kerja.

Kini bagi Indonesia hal ini adalah kesempatan baru yang sangat baik,
bekerja di negeri Sakura, tetapi juga sekaligus menjadi tanggungjawab
besar bagi kita semua agar dapat menjaga citra nama negara Indonesia
tetap baik di Jepang. Janganlah sampai kesempatan emas ini tercoreng
hanya gara-gara satu atau dua orang yang melakukan tindakan tidak
terpuji di Jepang. Untuk itu tentu pengenalan budaya Jepang sangat
perlu dipelajari bagi TKI yang memang serius ingin ke Jepang.

Kirimkan pertanyaan anda ke: info@jepang. com (Richard Susilo)